Para siswa diharapkan menjadi agent of change dalam menyebarluaskan
informasi bahaya merokok bagi kesehatan
Prevalensi merokok Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan penduduk usia muda. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan lebih mengejutkan adalah usia mulai merokok semakin muda (dini). Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013. Meningkatnya prevalensi kelompok usia muda ini selain disebabkan oleh harga rokok yang murah, juga disebabkan karena maraknya iklan dan promosi rokok. Badan POM sebagai Instansi yang diamanahkan dalam Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012 untuk melaksanakan pengawasan produk tembakau, berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dengan menyelenggarakan seminar bertema “Generasi Muda Sehat Berkualitas Tanpa Rokok”.
Makna yang ingin disampaikan melaui tema ini adalah perlunya melindungi generasi muda dari bahaya merokok sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup generasi muda sekarang dan masa mendatang sebagai penerus bangsa, kata Kepala Badan POM, Dr. Ir. Penny K. Lukito.,MCP dalam sambutannya pada seminar yang dilaksanakan di Hotel The Natsepa Ambon, Selasa (9/5).
Seminar ini dihadiri oleh kurang lebih 220 peserta dari perwakilan 15 SMP/SMA/sederajat di Ambon, lintas sektor, lembaga swadaya mayarakat (LSM) dan wartawan. Wakil Gubernur Maluku, Dr. Zeth Sahuburua, SH, MH, yang secara resmi membuka acara seminar, menyambut baik kegiatan ini dan berharap Badan POM bisa menambah jumlah SDM untuk melakukan pengawasan di Provinsi Maluku.
“Anak-anakku, kalian adalah generasi penerus bangsa, yang akan mengisi posisi-posisi kami di masa mendatang. Persaingan ke depan cukup ketat dan luar biasa yakni persaingan intelektual. Kesehatan merupakan kekayaan yang terbesar, karenanya generasi muda harus dijauhkan dari kebiasaan merokok dan juga narkoba. Untuk badan POM, kondisi di Maluku berbeda dengan wilayah bagian barat, wilayah kami terdiri dari 1.342 pulau, 11 kab/kota dan 114 kecamatan. Agar pengawasan lebih baik dibutuhkan setidaknya 20 orang untuk tiap kabupaten/kota, sedangkan saat ini jumlah petugas di Balai POM Ambon hanya 80 orang, masih sangat kurang sehingga perlu ditambah jumlah SDM-nya”, ucap Wakil Gubernur dalam sambutan pembukaan.
Materi yang disampaikan oleh narasumber pada seminar ini adalah Bahaya Merokok Bagi Kesehatan dan Kiat Berhenti Merokok oleh dr. Prasenohadi, Sp.P (RS Persahabatan), Peran Badan POM Dalam Pengawasan Produk Tembakau oleh Dra. Susan Gracia Arpan, Apt.,M.Si (Direktur Pengawasan NAPZA), Pengaruh Iklan Rokok Bagi Generasi Muda Indonesia oleh Fuad Baradja (Komnas Pengendalian Tembakau), dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah oleh Tulus Abadi, SH (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Materi disampaikan secara panel dengan di-moderatori oleh Dr. Rohani Budi Prihatin, M.Si dari Pusat Pengkajian Pengelolaan Data dan Informasi (P3DI) DPR RI.
Seminar berlangsung meriah, para peserta antusias untuk mengajukan pertanyaan kepada para narasumber maupun berebut untuk menjawab pertanyaan kuis berhadiah. Tampil juga dalam seminar ini, maskot Direktorat Pengawasan Napza dalam pengawasan rokok, yakni RIKO (Remaja Indonesia Anti Rokok) yang aktif berinteraksi dengan para peserta seminar. Selain itu para peserta juga bersemangat untuk membubuhkan tanda tangan sebagai tanda komitmen untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan sekolah. Diharapkan setelah mengikuti seminar ini, para peserta akan menjadi “agent of change” di lingkungannya dalam mensosialisasikan bahaya merokok bagi kesehatan dan cara berhenti merokok sehingga tercipta generasi muda sehat berkualitas tanpa tembakau.
(Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif)
